"Sejuta" pujian untuk almarhumah Endang Rahayu
Jumat, 4 Mei 2012 00:49 WIB | 2756 Views
Suami Almarhum mantan Menteri Kesehatan Endang
Rahayu Sedyaningsih, Reanny Mamahit, memberikan doa dan penghormatan
terakhir dalam upacara penyerahan jenazah dari pihak keluarga ke negara
di Auditorium Leimena, gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis
(3/5). Jenazah selanjutnya diberangkatkan dari Kementerian Kesehatan ke
pemakaman San Diego Hills, Karawang tempat peristirahatan terakhir
mantan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih. (FOTO ANTARA/Rasya)
()
Video Terkait
Nama dalam pepatah ini adalah nama baik atau buruk, yang akan selalu dikenang oleh masyarakat karena perbuatan.
Endang Rahayu Sedyaningsih, mantan Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II, yang meninggal pada 2 Mei 2012 pukul 11.45 WIB, karena kanker paru-paru, sepertinya, masuk dalam pepatah itu.
Kerja keras dan pengabdiannya, telah mengukir nama baiknya, dan mungkin akan selalu dikenang banyak orang.
Mereka yang mengenalnya tidak asing mengenai kerja keras dan pengabdiannya. Bagi yang tidak terlalu mengenalnya barangkali teperanjat ketika begitu banyak pujian bagi almarhumah atas jasa dan dedikasi terhadap bangsa dan negara selama hidupnya. Sayangnya, haru disampaikan setelah Endang menghadap Rab-nya.
"Sejuta" pujian disampaikan berbagai kalangan, mulai dari politisi, koleganya di Kabinet Indonesia Bersatu II, legislator, praktisi kesehatan hingga warga masyarakat awam.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Aburizal Bakrie menyatakan sangat terkesan pada kesederhanaan dan kerja keras Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih.
"Beliau pekerja keras. Sangat sederhana. Saya sangat terkesan," kata Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie di Slip Senayan, Jakarta, Rabu (2/5).
Lebih lanjut Ical menjelaskan Endang datang ke rumahnya saat pertama kali menjabat sebagai Menkes untuk meminta saran dirinya selaku mantan Menko Kesra. Kesederhanaan sosok Endang agaknya merupakan contoh bagi orang lain.
Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Azwar Abubakar mengatakan Menkes Endang Sedyaningsih hingga nonaktif karena sakit adalah sosok yang berjuang menjalankan reformasi birokrasi.
"Saya selaku Menpan-RB melihat beliau sebagai salah satu pejuang reformasi birokrasi di Kementerian Kesehatan," katanya.
Ia mengatakan program reformasi birokrasi yang dijalankan oleh Endang memang belum lama berjalan, namun fondasi untuk mencapainya sudah sangat kuat.
"Oleh karena itu saya berharap pengganti beliau bisa meneruskan reformasi birokrasi yang telah dirintis Bu Endang," katanya.
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyatakan salut terhadap kegigihan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih yang relatif tidak mengeluhkan penyakit yang dideritanya.
"Saat saya tanyakan kondisi kesehatan beliau (Menkes) beberapa waktu lalu, dijawab `kita jalani saja Pak`," kata Gamawan Fauzi.
Menurut Gamawan, Endang merupakan sosok yang berani dan sungguh-sungguh dalam pekerjaannya, terutama mengenai program pemberantasan penyakit di daerah.
"Kami sering berkomunikasi membahas tentang pemberdayaan daerah. Di situ dapat terlihat beliau sangat prihatin tentang target di daerah yang harus dikejar," tambah dia.
Anggota Komisi IX DPR RI Zuber Safawi mengemukakan, perjuangan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih melawan penyakit kanker yang dideritanya memberikan inspirasi tersendiri bagi bangsa Indonesia.
"Perjuangan almarhumah melawan penyakitnya itu menginspirasi kita semua. Bahwa di tengah penyakitnya, dia menyerahkan diri untuk tetap membangun kesehatan bangsa," katanya.
Dia menyatakan, bangsa ini telah kehilangan salah satu srikandi terbaiknya, yang mengemban tugas mulia dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.
"Di tengah perjuangan melawan kanker, almarhumah tetap tekun menjalankan tugas sebagai mitra Komisi IX, bahkan dalam setiap rapat dengan DPR, beliau tak pernah terlihat sedang sakit," ujarnya.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengenang Endang selaku Menkes sebagai seorang pekerja keras dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
"Beliau sangat membantu dan bekerja sama dengan PMI," kata Jusuf Kalla yang juga merupakan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat.
Mantan anggota Wantimpres Jimly Asshiddiqie juga memuji ketabahan Endang yang dinilainya luar biasa.
"Saya melihat beliau sebagai seorang yang luar biasa. Luar biasa bagaimana seorang manusia yang menerima keadaan, penyakit pun dia lihat sebagai anugerah. Banyak orang yang takut mati, tidak seperti beliau," ujarnya.
Sementara Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menilai Endang Rahayu Sedyaningsih merupakan sosok yang sangat peduli kesehatan masyarakat khususnya masyarakat kecil.
"Beliau sangat peduli kesehatan masyarakat kecil. Itu ditunjukan dengan sering berkunjung ke pusat kesehatan asyarakat (Puskesmas) dan pos pelayanan terpadu (Posyandu)," kata Iwan.
Iwan mengakui, terakhir bertemu Menkes Endang Rahayu pada pencanangan Program Campak tingkat Nasional di Puskesmas Duren Sawit pada Oktober 2011.
"Pada saat saya bertemu Menkes, keadaan beliau terlihat sehat bugar dan tidak menunjukkan bahwa dia sakit," katanya.
Walaupun pejabat tinggi, lanjut Iwan, Menkes sangat baik hati dan ramah.
"Kebijakan yang dibuat Kemenkes mengenai Puskesmas, sudah sesuai dengan MDGs dan saat ini program-program yang diluncurkan dari Kemenkes, sedang kami lanjutkan, seperti penanganan flu burung dan pembuatan modul-modul Puskesmas," katanya.
Shalat Gaib
Kesan mendalam atas kebaikan yang pernah dilakukan Endang Rahayu tidak hanya diungkapkan para elite, melainkan juga masyarakat kalangan bawah.
Di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sejumlah petani tembakau melaksanakan shalat gaib dan doa bersama untuk almarhumah Endang Rahayu Sedyaningsih.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah, Nurtantio Wisnubrata mengatakan, sebagai warga negara Indonesia sangat merasa kehilangan atas meninggalnya Endang Rahayu Sedyaningsih.
Selama ini, Endang Rahayu selaku Menkes dianggap tidak pro-petani tembakau dengan munculnya RUU dan RPP tentang zat adiktif tembakau.
"Saya mewakili petani tembakau di Kabupaten Temanggung turut berbela sungkawa. Semoga arwahnya diampuni oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan bagi keluarganya yang ditinggalkan selalu mendapatkan perlindungan," katanya.
Wisnu mengatakan, shalat gaib yang dilakukan sebagian petani tembakau ini sebagai wujud bela sungkawa yang amat mendalam. Bagaimanapun, Endang dianggap telah memberikan pengabdian terbaiknya untuk bangsa dan negara ini.
Ia berharap, Menkes pengganti Endang Rahayu Sedyaningsih bisa lebih bijaksana dan mengerti kaum petani khususnya petani tembakau.
"Sebagian besar masyarakat di Indonesia ini hidup dari pertanian, mereka butuh pemimpin yang melindungi para petani," katanya.
Terkait RPP dan RUU yang menjadi penghalang bagi para petani tembakau, Wisnu mengatakan, beberapa regulasi RUU dan RPP yang mengatakan tembakau sebagai zat adiktif merupakan diskriminasi terhadap petani tembakau.
"Hal tersebut akan mematikan penghasilan para petani tembakau," katanya.
Di Jakarta, ribuan orang datang untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Menteri Kesehatan (nonaktif) Endang Rahayu Sedyaningsih yang disemayamkan di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (3/5).
Sejak pukul 07.00 WIB, tamu-tamu mulai berdatangan yang terdiri atas pegawai Kementerian, pejabat pemerintah maupun tamu dari Organisasi Kesehatan Dunia dan kedutaan negara lain.
Tampak beberapa pejabat negara menghadiri upacara penghormatan tersebut seperti Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, Menristek Gusti Muhammad Hatta, Dirut Pertamina Karen Agustiawan dan Mendagri Gamawan Fauzi.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo juga menghadiri upacara penghormatan tersebut. Begitu juga Utusan Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk MDGs Nila Moeloek dan suaminya mantan Menkes Farid Anfasa Moeloek.
Prosesi pemberian penghormatan terakhir diawali dengan sholat jenazah berjamaaah dengan imam Prof Arief Rahman.
Profil
Endang Rahayu Sedyaningsih, lahir di Jakarta, 1 Februari 1955, adalah Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II yang menjabat sejak 22 Oktober 2009 hingga 26 April 2012.
Sebelumnya, Endang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes.
Endang memperoleh gelar sarjana pada tahun 1979 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan gelar magister dan doktor dari Harvard School of Public Health.
Endang mulai meniti karir pada tahun 1979 sebagai dokter di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Dia bergabung pada pelayanan kesehatan masyarakat pada tahun 1980 dan bekerja di daerah terpencil sebagai Kepala Puskesmas Waipare di Nusa Tenggara Timur selama tiga tahun.
Pada tahun 1983, ia pindah ke Jakarta dan meneruskan bekerja dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Pada tahun 1997, dan bergabung dengan Badan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Dia bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Pengendalian dan Pengembangan Program Penyakit, NIHRD untuk lebih dari satu dekade. Selama enam bulan pada tahun 2001, dia menghabiskan waktunya dengan bekerja pada Kantor Pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss.
Endang memangku jabatan Direktur Pusat Penelitian Biomedis dan Program Pengembangan, NIHRD pada tahun 2007. Pada bulan Oktober 2009, ia diangkat menjadi Menkes Republik Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bergabung dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.
Pada tanggal 26 April 2012 ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai Menkes karena kondisi kesehatan, dan pada 2 Mei 2012, Endang meninggal dunia karena kanker paru stadium lanjut di usia 57 tahun di RSCM Jakarta.
Keesokan harinya, pukul 09.30 WIB, jenazah diberangkatkan dari gedung Kementerian Kesehatan ke pemakaman San Diego Hills, Karawang yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih.
Selamat jalan Endang Rahayu Sedyaningsih. (S031/A013)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar