Jumat, 04 Mei 2012

Banten gandeng negara ASEAN tingkatkan mutu pendidikan

Rabu, 4 April 2012 15:17 WIB | 2840 Views
Wakil Gubernur Banten Rano Karno (FOTO ANTARA)
Kita menjajaki kerja sama dengan berbagai negara anggota ASEAN, mudah-mudahan dengan cara ini pendidikan Banten bisa lebih maju dan kualitasnya meningkat.
Berita Terkait
Serang (ANTARA News) - Pemerintah Provinsi Banten terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di wilayahnya melalui kerja sama dengan negara-negara anggota ASEAN, seperti Kamboja dan Malaysia.

Demikian disampaikan Wakil Gubernur Banten, Rano Karno, di Banten, Selasa.

"Kita menjajaki kerja sama dengan berbagai negara anggota ASEAN, mudah-mudahan dengan cara ini pendidikan Banten bisa lebih maju dan kualitasnya meningkat," kata Rano Karno lagi.

Pada Selasa (27/3), tim dari sejumlah perguruan tinggi di Kamboja datang ke Banten dan menandatangani nota kesepahaman dengan perguruan tinggi di Banten, disaksikan Wakil Gubernur Rano Karno.

Ia menjelaskan tahun ini Banten akan melakukan pertukaran mahasiswa dengan Kamboja, sebagai awal dan penjajakan kerja sama di bidang pendidikan.

"Tahun ini Banten akan kirim sekitar 100 mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Banten, untuk belajar di Kamboja, sebagai bagian dari kerja sama tersebut," katanya.

Pertukaran mahasiswa dari Banten tersebut tidak hanya dengan Kamboja, tetapi juga dengan sejumlah negara lainnya di Asean yang difasilitasi oleh tim kerja sama pendidikan negara-negara ASEAN (Seamolec).

Rano Karno mengatakan selain dengan Kamboja, Banten juga rencananya akan mengirimkan sejumlah mahasiswanya ke negara Asean lainnya dalam rangka kerja sama pendidikan tersebut.

"Tentunya ini baru tahap awal saja dengan mengirimkan sekitar 100 mahasiswa. Ke depannya kita juga akan kerja sama dengan negara Asean lainnya," kata Rano.

Selain dari Kamboja, tawaran kerja sama bidang pendidikan juga datang dari Malaysia. Negara tersebut siap bekerja sama untuk jenjang sekolah menengah atas (SMA) dan perguruan tinggi.

Penawaran kerja sama pendidikan antara Malaysia dengan Provinsi Banten tersebut disampaikan Penasehat Pendidikan Kedubes Malaysia di Indonesia Puan Yahurin Muhamad Yasin.

Yahurin bersama tim dari Universitas Putra Malaysia, berkunjung ke Provinsi Banten pada Senin (2/4), dan membicarakan kemungkinan kerja sama pendidikan dengan provinsi ini.

Rombongan dari Kedubes Malaysia dan Universitas Putra Malaysia diterima Staf Ahli Gubernur Banten Bidang SDM Hari Parwanto dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya Latuconsina.

Dalam pertemuan tersebut, tim dari Malaysia menawarkan para pelajar di Banten yang memiliki prestasi dan berminat untuk melanjutkan pendidikan di sejumlah Perguruan Tinggi di Malaysia.

"Harapan kami, Banten juga bisa melakukan kerja sama pendidikan dengan Malaysia seperti provinsi lainnya di Indonesia yakni Kalimantan Timur, Jambi dan juga Aceh," kata Yahurin.

Ia mengatakan para pelajar Indonesia bisa menuntut berbagai keahlian sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan diminati, seperti Informasi Teknologi, Ekonomi dan keahlian lainnya.

Pihak Malaysia bersedia membantu untuk biaya hidup `living cost` para pelajar Banten di Malaysia, sedangkan untuk biaya pendidikan atau perkuliahan ditanggung sendiri.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Banten Hudaya mengatakan, Pemprov Banten menyambut baik tawaran kerja sama pendidikan tersebut.

"Kami menyambut baik tawaran itu, namun kami akan laporkan dulu kepada Gubernur untuk menindaklanjutinya," kata Hudaya.

Pada kunjungan tersebut, rombongan dari Malaysia tersebut menyempatkan diri mengunjungi sejumlah sekolah, di antaranya Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kota Serang dan Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Kota Serang.


Kerjasama Antaryayasan

Kerja sama dengan luar negara, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah Provinsi Banten dengan pemerintah negara anggota ASEAN, tapi juga antaryayasan.

Sebelumnya, pada Selasa (6/3) Perguruan Mathla`ul Anwar Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, menjalin kerja sama dengan Perguruan Al-Irsyad Singapura, di bawah naungan Yayasan Temasek Singapura .

Ketua Perguruan Mathlaul Anwar (MA) Pusat Jihadudin mengatakan, kerja sama MA dan Singapura tersebut bertujuan untuk peningkatan kualitas pendidikan berbasis internasional dengan mendirikan `Global School` di Kecamatan Menes Pandeglang.

"Kerja sama yang dibangun dalam peningkatan kualitas pendidikan ini, lebih kepada manajemen sekolah dan peningkatan SDM pengajarnya," kata Jihadudin.

Bentuk kerja sama peningkatan pendidikan tersebut akan dimulai dengan peletakan batu pertama pembangunan "Global School" di Kecamatan Menes Pandeglang.

Sekolah yang akan dibangun di atas lahan 7.500 meter persegi tersebut, tahap pertama untuk penyelenggaraan jenjang pendidikan madrasah ibtidaiyah (MI) dan madrasah tsanawiyah (MTs). Selanjutnya secara bertahap akan dilanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

"Pendidikannya lebih difokuskan pada pengembangan sains, matematika dengan standar olimpiade Internasional dan bahasa Inggris standar `Cambridge`," kata Jihadudin.

Principle Consultan Madrasah Al-Irsyad Singapura Damanhuri Abas mengatakan, kerjasama yang dibangun antara MA dan Al-Irsyad Singapura tersebut diharapkan bisa meningkatkan kualitas manajemen pendidikan serta SDM tenaga pendidiknya.

"Kami nanti memberikan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga pengajar Indonesia ke Singapura. Begitu juga dari aspek manajemen operasional sekolah," katanya.

Yayasan Temasek Singapura memberikan bantuan dana hibah untuk lembaga pendidikan di Indonesia sebesar Rp68 miliar, termasuk pendanaan Mathla`ul Anwar "Global School" di Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang.

"Kami komitmen memberikan dana hibah itu untuk pembinaan 15 program di seluruh Indonesia," kata Pimpinan Temasek Foundation Singapore Benedict Cheong.

Ia mengatakan Mathla`ul Anwar (MA) Global School yang dibangun tahun 2012 di Kecamatan Menes merupakan sekolah berwawasan internasional, dan sebagian biaya di tanggung Temasek Foundatioan, yang merupakan lembaga "philantropic non profit" yang berpusat di Singapura peduli pendidikan dan kesehatan.

Menurut dia, pendanaan MA `Global School` meliputi kegiatan pelatihan di luar negeri, monitoring dan asistensi program selama lima tahun.

Model MA `Global School` yang akan didirikan berciri antara lain kurikulum sesuai standar ujian nasional plus, penguasaan bahasa Inggris, pendidikan sains berstandar oliampiade internasional.

Selain itu, juga berbasis ICT (information and communication technology) dan "sister school" dengan Madrasah Al Irsyad Singapura, akhlak karimah dan bahasa pengantar Indonesia-Inggris.

"Kami optimistis MA Global School bisa menguasai ilmu terknologi dengan wawasan internasional," katanya.

(Z003)

Cerita soal San Diego Hills tempat Sedyaningsih dimakamkan

Kamis, 3 Mei 2012 14:01 WIB | 5086 Views
Pandangan dari atas ilustrasi pemakaman San Diego Hills Memorial & Funeral Park, di Karawang, Jawa Barat. (san diego hills)
... hamparan rumput rapi luas, pohon-pohon peneduh dalam taman-taman, dan beberapa bangunan kecil yang elok di mata...
Berita Terkait
Jakarta (ANTARA News) - Jasad Menteri Kesehatan (non aktif) Endang Sedyaningsih, telah dibaringkan di pemakaman San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, Kamis.

Banyak orang berduka atas kepergian selamanya perempuan dokter spesialis kebidanan kelahiran Banyumas, 1 Februari 1955 itu.

Keluarga memutuskan almarhumah dimakamkan di pemakaman berkonsep cukup progresif untuk ukuran Indonesia itu.

Tidak banyak orang paham tentang konsep lahan pemakaman umum sebagaimana diterapkan manajemen San Diego Hills itu. 

Laiknya pemakaman umum di Indonesia, banyak yang memahami bahwa pemakaman bersuasana "di alam sana", ditumbuhi pohon kamboja, dan sebagainya.

Bagaimana sesungguhnya San Diego Hills itu berupa?

Mudah, bayangkan saja seperti di film-film Barat dalam adegan memakamkan satu tokohnya... hamparan rumput rapi luas, pohon-pohon peneduh dalam taman-taman, dan beberapa bangunan kecil yang elok di mata.

Amerika Serikat

Menurut situsnya, pemakaman di mana Sedyaningsih dibaringkan selamanya itu diberi nama San Diego Hills - Memorial Park & Funerals, di bawah manajemen PT Lippo Karawaci Tbk.

Konsepnya pemakaman inovatif, taman dan dilengkapi pusat keluarga seluas 500 Hektare dengan daya tampung 1,25 juta kavling makam.

Rumah ibadah dari agama-agama di Indonesia juga didirikan dalam komposisi yang mudah diakses dan padu dalam satu kompleks. Bangunan rumah-rumah ibadah itu berdiri berdampingan satu sama lain, bersisian dengan lokal parkir luas.

Dari awalnya merupakan luasan tanah berkontur berbukit-bukit dengan ubahan sedemikian rupa menjadi pemandangan alam yang indah serta infrastruktur baik dan dijaga 24 jam oleh satuan pengamanan internal.

Karena namanya San Diego, maka ingatan melayang pada kota San Diego di Kalifornia, Amerika Serikat.

Memang begitu, pemakaman ini diadopsi dari konsep Taman Kenangan dan dikembangkan lagi dari Forest Lawn, satu pemakaman umum serupa di Kalifornia.

Jadi akan lebih mirip kompleks taman ketimbang pemakaman umum yang dipenuhi pohon kamboja dan sebagainya.

Bergaya mediterania

Di situsnya, foto utama adalah deretan bangunan bergaya mediterania dihadapkan plaza bundar dan beberapa pergola besar. 

Yang tidak terjadi di pemakaman sumber inspirasi di Kalifornia namun diterapkan di Karawang oleh Lippo Group ini adalah perhitungan feng shui alias hong shui.

Bagi yang percaya dan meyakini hitung-hitungan feng shui ini, dapat menentukan sendiri keperluan untuk memakamkan kerabatnya di sana.

Karena ini komoditas yang dijual kepada konsumen, maka kepentingan konsumen menjadi titik fokus manajemen.

Misalnya pemakaman keluarga yang bisa diberi rabat hingga 70 persen, harga mulai satu lokal makam senilai Rp22 juta yang bisa dicicil sampai 50 kali pembayaran, asuransi jiwa sampai usia 60 tahun, pengalihan kepemilikan, dan sabagainya.

Yang jelas, tidak perlu khawatir nanti digusur karena lahan pemakaman di kemudian hari diperlukan untuk hal lain.

Tidak kalah penting adalah lokasinya yang diklaim cuma 45 menit bermobil pribadi dari Jakarta karena dekat pintu keluar tol Karawang Barat di km 46, di Jalan Tol Jakarta-Cikampek. 

Akhir kisah, kini jasad Sedyaningsih menjadi penghuni baru kompleks pemakaman itu. Selamat jalan, Ibu Sedyaningsih... (*)

"Sejuta" pujian untuk almarhumah Endang Rahayu

Jumat, 4 Mei 2012 00:49 WIB | 2756 Views
Suami Almarhum mantan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Reanny Mamahit, memberikan doa dan penghormatan terakhir dalam upacara penyerahan jenazah dari pihak keluarga ke negara di Auditorium Leimena, gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (3/5). Jenazah selanjutnya diberangkatkan dari Kementerian Kesehatan ke pemakaman San Diego Hills, Karawang tempat peristirahatan terakhir mantan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih. (FOTO ANTARA/Rasya) ()
Berita Terkait
Pepatah mengatakan, "gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama".

Nama dalam pepatah ini adalah nama baik atau buruk, yang akan selalu dikenang oleh masyarakat karena perbuatan.

Endang Rahayu Sedyaningsih, mantan Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II, yang meninggal pada 2 Mei 2012 pukul 11.45 WIB, karena kanker paru-paru, sepertinya, masuk dalam pepatah itu.

Kerja keras dan pengabdiannya, telah mengukir nama baiknya, dan mungkin akan selalu dikenang banyak orang.

Mereka yang mengenalnya tidak asing mengenai kerja keras dan pengabdiannya. Bagi yang tidak terlalu mengenalnya barangkali teperanjat ketika begitu banyak pujian bagi almarhumah atas jasa dan dedikasi terhadap bangsa dan negara selama hidupnya. Sayangnya, haru disampaikan setelah Endang menghadap Rab-nya.

"Sejuta" pujian disampaikan berbagai kalangan, mulai dari politisi, koleganya di Kabinet Indonesia Bersatu II, legislator, praktisi kesehatan hingga warga masyarakat awam.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Aburizal Bakrie menyatakan sangat terkesan pada kesederhanaan dan kerja keras Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih.

"Beliau pekerja keras. Sangat sederhana. Saya sangat terkesan," kata Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal Bakrie di Slip Senayan, Jakarta, Rabu (2/5).

Lebih lanjut Ical menjelaskan Endang datang ke rumahnya saat pertama kali menjabat sebagai Menkes untuk meminta saran dirinya selaku mantan Menko Kesra. Kesederhanaan sosok Endang agaknya merupakan contoh bagi orang lain.

Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan-RB) Azwar Abubakar mengatakan Menkes Endang Sedyaningsih hingga nonaktif karena sakit adalah sosok yang berjuang menjalankan reformasi birokrasi.

"Saya selaku Menpan-RB melihat beliau sebagai salah satu pejuang reformasi birokrasi di Kementerian Kesehatan," katanya.

Ia mengatakan program reformasi birokrasi yang dijalankan oleh Endang memang belum lama berjalan, namun fondasi untuk mencapainya sudah sangat kuat.

"Oleh karena itu saya berharap pengganti beliau bisa meneruskan reformasi birokrasi yang telah dirintis Bu Endang," katanya.

Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menyatakan salut terhadap kegigihan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih yang relatif tidak mengeluhkan penyakit yang dideritanya.

"Saat saya tanyakan kondisi kesehatan beliau (Menkes) beberapa waktu lalu, dijawab `kita jalani saja Pak`," kata Gamawan Fauzi.

Menurut Gamawan, Endang merupakan sosok yang berani dan sungguh-sungguh dalam pekerjaannya, terutama mengenai program pemberantasan penyakit di daerah.

"Kami sering berkomunikasi membahas tentang pemberdayaan daerah. Di situ dapat terlihat beliau sangat prihatin tentang target di daerah yang harus dikejar," tambah dia.

Anggota Komisi IX DPR RI Zuber Safawi mengemukakan, perjuangan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih melawan penyakit kanker yang dideritanya memberikan inspirasi tersendiri bagi bangsa Indonesia.

"Perjuangan almarhumah melawan penyakitnya itu menginspirasi kita semua. Bahwa di tengah penyakitnya, dia menyerahkan diri untuk tetap membangun kesehatan bangsa," katanya.

Dia menyatakan, bangsa ini telah kehilangan salah satu srikandi terbaiknya, yang mengemban tugas mulia dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat.

"Di tengah perjuangan melawan kanker, almarhumah tetap tekun menjalankan tugas sebagai mitra Komisi IX, bahkan dalam setiap rapat dengan DPR, beliau tak pernah terlihat sedang sakit," ujarnya.

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengenang Endang selaku Menkes sebagai seorang pekerja keras dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

"Beliau sangat membantu dan bekerja sama dengan PMI," kata Jusuf Kalla yang juga merupakan Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat.

Mantan anggota Wantimpres Jimly Asshiddiqie juga memuji ketabahan Endang yang dinilainya luar biasa.

"Saya melihat beliau sebagai seorang yang luar biasa. Luar biasa bagaimana seorang manusia yang menerima keadaan, penyakit pun dia lihat sebagai anugerah. Banyak orang yang takut mati, tidak seperti beliau," ujarnya.

Sementara Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi menilai Endang Rahayu Sedyaningsih merupakan sosok yang sangat peduli kesehatan masyarakat khususnya masyarakat kecil.

"Beliau sangat peduli kesehatan masyarakat kecil. Itu ditunjukan dengan sering berkunjung ke pusat kesehatan asyarakat (Puskesmas) dan pos pelayanan terpadu (Posyandu)," kata Iwan.

Iwan mengakui, terakhir bertemu Menkes Endang Rahayu pada pencanangan Program Campak tingkat Nasional di Puskesmas Duren Sawit pada Oktober 2011.

"Pada saat saya bertemu Menkes, keadaan beliau terlihat sehat bugar dan tidak menunjukkan bahwa dia sakit," katanya.

Walaupun pejabat tinggi, lanjut Iwan, Menkes sangat baik hati dan ramah.

"Kebijakan yang dibuat Kemenkes mengenai Puskesmas, sudah sesuai dengan MDGs dan saat ini program-program yang diluncurkan dari Kemenkes, sedang kami lanjutkan, seperti penanganan flu burung dan pembuatan modul-modul Puskesmas," katanya.


Shalat Gaib

Kesan mendalam atas kebaikan yang pernah dilakukan Endang Rahayu tidak hanya diungkapkan para elite, melainkan juga masyarakat kalangan bawah.

Di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, sejumlah petani tembakau melaksanakan shalat gaib dan doa bersama untuk almarhumah Endang Rahayu Sedyaningsih.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah, Nurtantio Wisnubrata mengatakan, sebagai warga negara Indonesia sangat merasa kehilangan atas meninggalnya Endang Rahayu Sedyaningsih.

Selama ini, Endang Rahayu selaku Menkes dianggap tidak pro-petani tembakau dengan munculnya RUU dan RPP tentang zat adiktif tembakau.

"Saya mewakili petani tembakau di Kabupaten Temanggung turut berbela sungkawa. Semoga arwahnya diampuni oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan bagi keluarganya yang ditinggalkan selalu mendapatkan perlindungan," katanya.

Wisnu mengatakan, shalat gaib yang dilakukan sebagian petani tembakau ini sebagai wujud bela sungkawa yang amat mendalam. Bagaimanapun, Endang dianggap telah memberikan pengabdian terbaiknya untuk bangsa dan negara ini.

Ia berharap, Menkes pengganti Endang Rahayu Sedyaningsih bisa lebih bijaksana dan mengerti kaum petani khususnya petani tembakau.

"Sebagian besar masyarakat di Indonesia ini hidup dari pertanian, mereka butuh pemimpin yang melindungi para petani," katanya.

Terkait RPP dan RUU yang menjadi penghalang bagi para petani tembakau, Wisnu mengatakan, beberapa regulasi RUU dan RPP yang mengatakan tembakau sebagai zat adiktif merupakan diskriminasi terhadap petani tembakau.

"Hal tersebut akan mematikan penghasilan para petani tembakau," katanya.

Di Jakarta, ribuan orang datang untuk memberikan penghormatan terakhir bagi Menteri Kesehatan (nonaktif) Endang Rahayu Sedyaningsih yang disemayamkan di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (3/5).

Sejak pukul 07.00 WIB, tamu-tamu mulai berdatangan yang terdiri atas pegawai Kementerian, pejabat pemerintah maupun tamu dari Organisasi Kesehatan Dunia dan kedutaan negara lain.

Tampak beberapa pejabat negara menghadiri upacara penghormatan tersebut seperti Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, Menristek Gusti Muhammad Hatta, Dirut Pertamina Karen Agustiawan dan Mendagri Gamawan Fauzi.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo juga menghadiri upacara penghormatan tersebut. Begitu juga Utusan Khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk MDGs Nila Moeloek dan suaminya mantan Menkes Farid Anfasa Moeloek.

Prosesi pemberian penghormatan terakhir diawali dengan sholat jenazah berjamaaah dengan imam Prof Arief Rahman.


Profil

Endang Rahayu Sedyaningsih, lahir di Jakarta, 1 Februari 1955, adalah Menteri Kesehatan pada Kabinet Indonesia Bersatu II yang menjabat sejak 22 Oktober 2009 hingga 26 April 2012.

Sebelumnya, Endang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Depkes.

Endang memperoleh gelar sarjana pada tahun 1979 dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan gelar magister dan doktor dari Harvard School of Public Health.

Endang mulai meniti karir pada tahun 1979 sebagai dokter di Rumah Sakit Pertamina Jakarta. Dia bergabung pada pelayanan kesehatan masyarakat pada tahun 1980 dan bekerja di daerah terpencil sebagai Kepala Puskesmas Waipare di Nusa Tenggara Timur selama tiga tahun.

Pada tahun 1983, ia pindah ke Jakarta dan meneruskan bekerja dalam pelayanan kesehatan masyarakat di Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Pada tahun 1997, dan bergabung dengan Badan Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Dia bekerja sebagai peneliti di Pusat Penelitian Pengendalian dan Pengembangan Program Penyakit, NIHRD untuk lebih dari satu dekade. Selama enam bulan pada tahun 2001, dia menghabiskan waktunya dengan bekerja pada Kantor Pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss.

Endang memangku jabatan Direktur Pusat Penelitian Biomedis dan Program Pengembangan, NIHRD pada tahun 2007. Pada bulan Oktober 2009, ia diangkat menjadi Menkes Republik Indonesia oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan bergabung dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

Pada tanggal 26 April 2012 ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai Menkes karena kondisi kesehatan, dan pada 2 Mei 2012, Endang meninggal dunia karena kanker paru stadium lanjut di usia 57 tahun di RSCM Jakarta.

Keesokan harinya, pukul 09.30 WIB, jenazah diberangkatkan dari gedung Kementerian Kesehatan ke pemakaman San Diego Hills, Karawang yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih.

Selamat jalan Endang Rahayu Sedyaningsih.  (S031/A013)

Orang Indonesia Asli Mendirikan Pabrik Tempe Di Jepang

Terlahir di kota kecil Grobogan, Jawa Tengah ternyata tidak menyurutkan semangat juang Rustono (43) untuk meraih mimpi besarnya. Siapa sangka bila seorang mantan bell boy Hotel Sahid Yogyakarta ini sekarang bisa sukses merintis usaha tempe di negeri sakura (Jepang) serta mendapatkan gelar khusus yakni The King of Tempe.

Meskipun bisnisnya kini telah berkembang dengan pesat, namun perjalanan suksesnya dalam membangun usaha tempe tidaklah semulus apa yang kita bayangkan. Setelah memutuskan untuk menuntut ilmu di Akademi Perhotelah Sahid pada tahun 1987, Ia kemudian merintis karirnya sebagai seorang bell boy di Hotel Sahid Yogyakarta hingga bertahun-tahun lamanya. Pengalaman inilah yang kemudian mempertemukan Rustono dengan seorang wanita asli Jepang bernama Tsuruko Kuzumoto, yang kini telah dipersunting sebagai istrinya.

Di tahun 1997, Rustono memutuskan untuk hijrah ke Kyoto, Jepang untuk melanjutkan hidup baru bersama istri tercintanya. Dari sinilah perjuangan Rustono mulai dirintis dari awal. Ia bekerja di beberapa perusahaan Jepang mulai dari perusahaan sayur-mayur higga perusahaan roti yang semuanya menuntut ketelitian dan tanggungjawab cukup besar dari para karyawannya. Rustono yang saat itu berprofesi sebagai seorang karyawan, mendapatkan banyak ilmu dari masyarakat di negeri matahari terbit tersebut, baik dari perilaku hidup sehari-hari maupun dari segi etos kerja para karyawan yang relatif cukup tinggi.


Awal Merintis Usaha Tempe

Berbekal pengalaman dan pengetahuannya di beberapa sektor industri, hati kecil Rustono mulai terdorong untuk membuka peluang bisnis baru yang belum pernah ada sebelumnya di Negara Jepang. Terinspirasi dari makanan nato (sebangsa makanan dari kedelai yang rasanya sangat khas orang Jepang), ayah dari Noemi Kuzumoto ini mencoba menekuni sektor bisnis makanan dan membuat tempe dengan sedikit pengetahuan yang pernah Ia ketahui.

Proses trial and error Ia jalani kurang lebih selama empat bulan, bahkan Ia rela pulang ke Indonesia selama tiga bulan hanya untuk belajar membuat tempe yang lezat dari 60 pengrajin tempe di seluruh Pulau Jawa. Kuatnya tekad dan semangat Rustono untuk terus belajar memproduksi tempe, akhirnya membuahkah hasil manis sehingga Ia berhasil membuat tempe yang lezat dengan bantuan ragi dari Indonesia, dan memanfaatkan sumber mata air di sekitar kediaman mertuanya.

Setelah berhasil memproduksi tempe dengan sempurna, ternyata masih banyak kendala usaha yang dihadapi oleh Rustono. Salah satunya yaitu mengenai izin produksi di Negara Jepang yang cukup rumit (harus melalui berbagai tahap penelitian dan tes), serta kendala iklim alam yang kurang bersahabat karena memiliki kelembapan udara kurang dari 60%, sehingga proses fermentasi tempe tidak bisa berjalan maksimal tanpa bantuan peralatan khusus yang bisa menjaga kestabilan cuaca.

Semua kendala tersebut dijadikannya sebagai sebuah tantangan baru, hingga pada akhirnya Ia berhasil mengantongi perizinan dari pemerintah setempat dan memasarkan produk tempenya dengan merek Rusto Tempeh yang dilengkapi dengan ilustrasi gambar suasana kehidupan kampung di Pulau Jawa. Dengan memanfaatkan kemasan produk 200 gram, sekarang ini kapasitas produksi Rusto Tempeh bisa mencapai 16.000 bungkus setiap lima hari. Ia memasarkan produk tempenya hampir ke seluruh kota di Jepang, baik di perusahaan jasa boga, rumah makan vegetarian, toko swalayan, sekolah-sekolah, hingga ke beberapa rumah sakit di Fukuoka.

Kerja keras dan semangat juang Rustono di negeri sakura, kini telah terbayar dengan keberhasilan usaha tempe yang Ia rintis. Bila dulunya usaha tempe Rustono dijalankan di rumah kecilnya, kini suami Tsuruko Kuzumoto ini telah membangun pabrik tempe di kawasan pinggir hutan yang bermata air dan memanfaatkan lahan seluas 1.000 meter2. Semoga kisah pengusaha sukses dari Grobogan, Jawa Tengah ini memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi seluruh lapisan masyarakat untuk segera memulai usaha. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses. /@Kaskus (http://www.kaskus.us/showthread.php?t=14242495)


"Koboy Palmerah" Berdamai dengan Pengemudi Motor

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi umbar tembakan di Jalan Tentara Pelajar, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Senin (30/4/2012) siang, kini tinggal menunggu proses hukum terhadap Kapten Infanteri MA, sang "Koboy Palmerah". Antara MA dan korban yang ia intimidasi sudah tidak lagi ada masalah karena keduanya sepakat untuk berdamai.
Kepala Subdis Penerangan Umum Angkatan Darat Kolonel TNI Zainal Mutakin mengatakan, pengemudi sepeda motor berinisial SSP yang merasa ditabrak oleh MA tidak mengajukan tuntutan terhadap oknum TNI tersebut. Hal itu dikarenakan tidak ada satu pun kerugian yang diderita SSP.
"Antara anggota kami dengan pengendara motor itu sudah sepakat damai langsung di lokasi kejadian setelah polisi militer mengamankan anggota itu. Akhirnya tidak ada tuntutan karena setelah diperiksa, kan, tidak ada yang rusak dan tidak ada yang luka," ujar Zainal, Rabu (2/5/2012) di Markas Besar Angkatan Darat.
Peristiwa itu bermula ketika MA mengendarai mobil Toyota Avanza berpelat nomor TNI di kawasan Palmerah. Insiden itu direkam oleh warga sekitar. Video berdurasi 2 menit dengan judul "Koboy Palmerah" itu kemudian diunggah oleh akun bernama Unplugged The TV pada Selasa (1/5/2012) sekitar pukul 13.00.
Video tersebut dimulai dengan aksi MA yang tengah mengintimidasi SSP. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan dari senjata yang dipegang MA. Saat itu, MA berdiri di belakang mobil Toyota Avanza berpelat nomor 1394-00 warna hijau milik TNI AD. Ia terlihat emosi dan mulai menghardik SSP yang berkaus biru dan masih menggunakan helm putih berdiri di depan sepeda motor miliknya.

MA juga menenteng senjata mirip senjata api jenis FN dan sebuah tongkat besi. Ia berkali-kali menghardik SSP sambil memukulinya dengan tangan ataupun senjata yang digenggamnya ke arah kepala dan paha SSP.

Berdasarkan keterangan saksi mata, Andri, perselisihan antara keduanya terjadi karena pengendara sepeda motor merasa dipepet oleh mobil yang dikendarai MA. "Kejadiannya sekitar 20 menit karena berhasil dilerai sama polisi militer yang datang berseragam dan pakai mobil warna putih. Si penembak juga langsung dibawa polisi militer," kata Andri.
Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat Brigadir Jenderal TNI Pandji Suko mengatakan, peristiwa itu terjadi ketika MA hendak mengemudikan mobilnya ke lajur ke tengah, lalu berubah dan berusaha mengambil lajur kiri. Saat itu MA melihat sepeda motor di sisi kiri mobilnya. "Pengendara motor yang ngerasa kesenggol itu ketok-ketok mobil. Saat kaca dibuka sama anggota kami, pengendara itu marah-marah," kata Pandji.
Pandji mengatakan, saat itu pengemudi sepeda motor berkata kepada MA, "Jangan mentang-mentang aparat bisa seenaknya!" Mendengar teriakan itu, MA meminggirkan langsung mobilnya di jalan. Ia pun turun dan menanyakan apakah SSP terluka.
"Ternyata setelah dia turun, enggak ada yang luka dan lecet juga. Berarti enggak ada masalah dan dia masuk lagi ke mobil. Saat kembali ke mobil itu, orang ini (SSP) datangi anggota dan tendang mobil," ujar Pandji. Pandji mengatakan, SSP sempat mencekik leher MA dan membuat MA pun naik pitam.
MA kembali keluar dari mobilnya dengan menenteng besi kecil dan airsoft gun. Airsoft gun itu ia tembakkan ke udara sebanyak dua kali. "Itu naluri, insting. Kalau terjadi begitu, instingnya kita lari atau melindungi diri dan lihat saya punya apa," ujar Pandji.
Meski permasalahannya dengan SSP berakhir, MA masih harus menghadapi pemeriksaan dari Polisi Militer Kodam Jaya (Pomdam Jaya). Jika terbukti bersalah, MA dapat dikenai sanksi disiplin atau diajukan ke pengadilan militer.